1001 PKKMB UNILA
PKKMB membawaku melewati tiga hari penuh cerita: bertemu orang-orang baru, belajar, tertawa, hingga tubuhku kembali memintaku berhenti. Hari ketiga berakhir di rumah sakit, membuatku mengikuti hari terakhir secara daring. Meski tidak sesuai rencana, tiga hari itu cukup menjadi bukti bahwa sebuah perjalanan tidak selalu berakhir sebagaimana yang kita bayangkan, tetapi tetap meninggalkan cerita.
LEMBARAN PERTAMA
Halo semua, aku akan menulis menggunakan sudut pandang orang pertama agar kalian tidak mengira apapun yang kutuliskan disini palsu atau AI. Semua bermula ketika kakiku mulai mengenal lelah, pada pagi yang belum genap pukul tujuh. Langkah kakiku membawaku melewati jalan yang terasa lebih panjang dari biasanya. aku memasuki sebuah auditorium yang begitu asing, ruangan yang tidak pernah terjamak oleh kakiku sendiri. Aku membiarkan beberapa menitku termakan oleh angin, terseret begitu saja oleh angin, terseret begitu saja oleh waktu hanya untuk mengetahui di mana seharusnya tubuhku berlabuh dan di kursi mana seharusnya aku meletakkan barang barang bawaanku. Hingga pada akhirnya, setelah entah berapa lama yang sebenarnya mungkin hanya beberapa menit, aku menemukan tempatku dan mengembuskan napas lega, seolah baru saja menyelesaikan sebuah perjalanan yang jauh lebih panjang daripada yang sebenarnya. Di sanalah kemudian aku menjatuhkan tubuhku di antara orang-orang yang bahkan belum lama kukenal beberapa mungkin baru kutemui beberapa saat yang lalu, beberapa lainnya bahkan belum sempat kuketahui namanya namun pagi itu, suka tidak suka, kami dipertemukan oleh satu ruangan, satu barisan kursi, dan sebuah permulaan yang sama-sama belum kami mengerti akan membawanya ke mana.
Pagi itu kemudian bergerak sebagaimana mestinya, membawa kami semakin jauh ke dalam pembicaraan tentang sesuatu yang mungkin selama ini terdengar begitu besar bernama Bela Negara. Dari sana aku mengenal bahwa bela negara tidak selalu hadir dalam bentuk seragam, barisan, atau sesuatu yang harus dilakukan dengan gagah di hadapan banyak orang; ia juga dapat tumbuh dari hal-hal sederhana mencintai apa yang lahir dari negeri sendiri, menjaga lingkungan, menjalankan kewajiban, serta menumbuhkan kesadaran bahwa sebagai bagian dari bangsa, ada tanggung jawab yang tidak selalu terlihat namun tetap harus dipikul. Kami juga diajak melihat bahwa zaman telah mengubah wajah ancaman; teknologi yang seharusnya menjadi jembatan menuju masa depan dapat pula menjadi ruang yang membawa tantangan baru bagi generasi muda. Materi itu masih berjalan, suara pemateri masih mengisi ruangan, dan mungkin masih banyak hal yang belum sempat kutuliskan di antara baris-baris catatanku. Namun entah sejak kapan, perhatian dan kesadaranku mulai larut bersama tubuh yang perlahan kehilangan tenaganya. Hal terakhir yang benar-benar kuingat hanyalah rasa sakit yang semakin memenuhi tubuh, sampai suara-suara di sekitar perlahan menjadi jauh dan samar, seperti sebuah lagu yang volumenya sengaja dikecilkan oleh waktu.
Setelah itu, aku tidak lagi tahu kapan tepatnya aku berhenti menjadi bagian dari ruangan tersebut, kapan tubuhku dipindahkan, atau kapan aku akhirnya meninggalkan auditorium yang sejak pagi terasa begitu asing. Aku hanya mendapati diriku telah berada di posko kesehatan, dibawa oleh tangan-tangan yang bahkan sebagian namanya mungkin belum sempat kuketahui, lalu diletakkan di sebuah ruang yang jauh lebih tenang dari riuh yang sebelumnya mengelilingiku. Barangkali ada bagian dari hari itu yang hilang dari ingatanku, tetapi satu hal yang ingin tetap kusimpan adalah kebaikan yang datang di saat aku bahkan tidak sempat memintanya untuk kakak-kakak, tim kesehatan, dan siapa pun yang telah membantuku ketika tubuhku memilih untuk berhenti sejenak, terima kasih telah menjadi bagian kecil dari hari pertamaku, bahkan ketika aku sendiri tidak mampu mengingat seluruhnya.
LEMBARAN KEDUA
Hari itu terasa sedikit berbeda. Aku dan beberapa teman memilih untuk tidak berada di ruangan yang sama seperti biasanya, melainkan mencari satu sudut kecil di sebuah kafe untuk menjadikan tempat itu sebagai ruang belajar kami sendiri. Di antara meja, suara percakapan yang sesekali bertabrakan, dan aroma kopi yang mengambang di udara, kami duduk berdekatan sambil menyaksikan siaran langsung PKKMB melalui layar YouTube, seolah-olah jarak hanya mengubah tempat kami berada, bukan rasa ingin menjadi bagian dari hari itu. Sesekali perhatian kami terpecah oleh permainan kecil, tawa, dan percakapan yang tidak selalu memiliki kaitan dengan apa yang sedang berlangsung di layar, tetapi justru mungkin di situlah letak menyenangkannya hari tersebut belajar tanpa harus selalu terasa seperti belajar, dan melewati waktu bersama orang-orang yang baru perlahan menjadi akrab.
Sampai kemudian tibalah satu bagian yang paling kami tunggu, pertunjukan dari UKM yang entah bagaimana berhasil mengembalikan seluruh perhatian kami kepada layar. Ada sesuatu yang berbeda ketika seni hadir di tengah rangkaian kegiatan yang sejak awal terasa begitu formal; untuk beberapa saat, kami tidak lagi sekadar menonton sebuah siaran dari tempat yang jauh, melainkan ikut hanyut dalam riuh dan energi yang sampai kepada kami melalui layar. Setelah pertunjukan itu usai, hari pun terasa seperti telah sampai pada penghujungnya. Kami menutup laptop, menyisakan lelah yang mulai terasa di tubuh masing-masing, lalu sebelum benar-benar berpencar menuju rumah, kami sepakat mencari semangkuk mie ayam untuk mengakhiri hari. Barangkali memang tidak ada penutup yang terlalu megah untuk sebuah hari yang panjang hanya semangkuk mie ayam, percakapan yang tersisa, dan beberapa orang yang akhirnya pulang membawa lelahnya masing-masing.
LEMBARAN TERAKHIR.
Sekarang aku telah sampai pada lembaran ketiga yang pada akhirnya justru menjadi lembaran terakhir dari cerita ini. Mungkin akan ada yang bertanya-tanya, mengapa aku memilih berhenti di sini, sementara PKKMB seharusnya memiliki empat hari untuk diselesaikan. Mengapa aku menutup catatan ini pada hari ketiga, ketika masih ada satu pagi lagi yang seharusnya kutulis, satu hari lagi yang semestinya kujalani bersama orang-orang yang baru beberapa hari sebelumnya bahkan belum kukenal. Jawabannya akan kusimpan sampai penghujung, sebab barangkali beberapa cerita memang lebih baik dibiarkan berjalan terlebih dahulu sebelum kita mengetahui ke mana sebenarnya ia hendak membawa kita.
Pagi itu, kami memulai hari dengan berjalan dari shuttle depan menuju gedung FISIP. Jaraknya terasa begitu panjang, atau mungkin tubuhku memang sedang tidak sedang diajak berkompromi; setiap langkah perlahan mengambil sedikit demi sedikit napasku, sampai pada suatu titik aku merasa udara seakan lupa bagaimana caranya tinggal di dalam paru-paruku. Namun, seperti banyak hal yang kita lakukan ketika masih merasa sanggup, aku tetap berjalan sampai semuanya selesai. Setelah itu kami menunggu pembukaan, sampai akhirnya pita dibentangkan dan dipotong oleh dekan bersama jajaran staf, seolah sebuah gerbang baru sedang dibuka untuk menyambut kami ke dalam rumah yang baru saja kami pilih. Kami kemudian masuk, dan ruangan itu kembali dipenuhi oleh berbagai pertunjukan tarian, seni, dan hal-hal lain yang membuat pagi terasa lebih hidup daripada sekadar rangkaian acara. Aku menikmatinya; benar-benar menikmatinya. Setelah pertunjukan selesai, satu demi satu dekan dan kepala jurusan memperkenalkan diri, menjelaskan siapa mereka, apa yang ada di balik ruang-ruang yang akan menjadi bagian dari kehidupan kami, dan mungkin di sanalah seharusnya hari itu terus berjalan seperti biasa.
Namun rupanya tubuh memiliki cara sendiri untuk menulis akhir sebuah cerita.
Entah pada detik keberapa, jantungku seakan berhenti mengirimkan aba-aba kepada seluruh tubuhku. Pandanganku mulai kehilangan bentuk, suara-suara di sekitar berubah menjadi gema yang semakin jauh, dan setelah itu aku tidak lagi memiliki ingatan yang utuh tentang apa yang terjadi. Yang tersisa hanyalah potongan-potongan suara kepanikan di sekitar, kemudian sebuah perjalanan yang sangat kukenal tetapi selalu ingin kuhindari, ambulans. Ada sesuatu yang ganjil tentang sebuah kendaraan yang berkali-kali membawaku pergi ketika tubuhku sedang tidak baik-baik saja; bahkan sebelum benar-benar sadar ke mana aku dibawa, aku sudah mengenali ketakutan itu. Aku sempat berada di antara sadar dan tidak, membuka mata hanya untuk menangkap serpihan keadaan, sebelum semuanya kembali gelap dan tubuhku akhirnya menyerah kepada kehilangan kesadaran.
Ketika aku kembali membuka mata, langit-langit yang kulihat bukan lagi langit-langit gedung FISIP. Ruangan itu telah berganti, udara telah berganti, bahkan suara-suara di sekelilingku terdengar seperti berasal dari dunia yang berbeda. Aku berada di kamar rumah sakit, dengan sebuah tabung oksigen besar yang menemaniku bernapas, begitu besar hingga keberadaannya terasa sampai ke telinga dan membuatnya berdenyut nyeri. Pagi tadi aku masih berada di antara kerumunan mahasiswa, mendengarkan orang-orang memperkenalkan diri dan menunggu hari berjalan menuju bagian berikutnya; beberapa waktu kemudian, aku justru terbangun di tempat yang sama sekali tidak pernah kurencanakan untuk menjadi bagian dari PKKMB-ku.
Dan mungkin, di situlah jawaban dari pertanyaan tadi berada.
Aku tidak berhenti menulis karena PKKMB-ku selesai pada hari ketiga. Aku berhenti karena pada hari ketiga, tubuhku memutuskan bahwa perjalanan itu harus mengambil jalan lain. Hari keempat yang seharusnya kuhabiskan bersama teman-teman, mengenakan atribut yang sama, mendengarkan acara terakhir, dan mungkin pulang dengan rasa lega karena akhirnya seluruh rangkaian telah selesai, justru kujalani dari sebuah kamar rumah sakit. Aku tetap mengikuti PKKMB, hanya saja kali ini melalui layar, secara daring, dengan rumah sakit sebagai ruang kelas dan suara dari balik perangkat sebagai pengganti riuh auditorium yang sejak hari pertama mulai terasa akrab.
Sedikit disayangkan, tentu saja. Aku ingin berada di sana. Aku ingin melihat semuanya sampai selesai, ingin merasakan satu hari terakhir itu dengan kakiku sendiri, ingin pulang bersama teman-teman dengan cerita tentang bagaimana empat hari yang panjang akhirnya berakhir. Tetapi mungkin tidak semua cerita diberi kesempatan untuk memiliki akhir yang kita bayangkan. Ada yang selesai di auditorium, ada yang selesai di perjalanan pulang, dan punyaku—entah lucu atau menyedihkan—selesai di antara bunyi alat medis dan layar yang menyala.
Dan untuk sekarang, biarlah tiga lembar ini menjadi saksi bahwa aku pernah datang dengan langkah yang lelah, menemukan tempat di antara orang-orang asing, tertawa bersama teman-teman, menonton pertunjukan, kemudian kehilangan satu hari yang belum sempat kuselesaikan. Empat hari seharusnya menjadi satu cerita utuh, tetapi tiga hari ternyata sudah cukup untuk membuatku mengerti bahwa setiap permulaan tidak selalu membawa kita menuju akhir yang telah direncanakan.
Subscribe newsletter
Dapat email setiap kali ABY publish post baru. Tanpa spam, unsubscribe kapan saja.
Privacy: email kamu cuma dipakai untuk kirim post baru dari blog ini. Tidak di-share, tidak di-jual.
Komentar (0)
Memuat komentar…
Topik Serupa
Bacaan Lain di Blog Unila
Tulisan terkait dari penulis lain — kurasi otomatis berdasarkan kategori & tag.